Aku, Rasa Itu dan Pemuda Bersahaja



                Deru angin malam yang perlahan mengetuk jendela kamarku tak membuat aku berniat menyudahi percakapan kami. Langkah jemari yang berjalan mengetik di keyboard, berubah menjadi gerakan bibir yang mengatup sesuai irama kata. Tak terasa mataku mulai berontak untuk terpejam, kututup percakapan kami dengan ucapan terimakasih dan selamat malam.

                Itulah sedikit kejadian yang mulai menyadarkanku bahwa dia berbeda. Hebatnya, dia yang jauh disana dapat mengisi kolom kehidupan yang belum sempat kutemui yaitu kakak. Ia mewarnai hari-hariku dengan canda dan nasihatnya yang semakin membuatku merasa bahwa dia berbeda. Dia berbeda karena aku yang tak sengaja menaruh kunci hati dan ia tak sengaja membawanya lari.

                Dia tidak seperti K-Pop idol yang kukagumi, atau chara di anime yang kugandrungi, dia juga bukan seperti member boyband barat yang lagunya kudendangkan setiap hari. Dia adalah orang yang menyadarkanku bahwa keunggulan dunia tak seharusnya dijadikan patokan sebagai tolak ukur penilaian. Semua hal indah yang tak pernah kunilai sebelumnya, kini ada pada dirinya.

                Hingga aku semakin menyadari bahwa ia benar-benar berbeda setelah pertemuan pertama kami. Dia membuatku jatuh hati dengan kesahajaannya, dengan ilmu agamanya, dengan nasihatnya, dengan hal-hal bersifat moral yang ia limpahkan secara ikhlas padaku. Rasa ikhlas yang kusalah artikan sebagai tindakan perhatian.

                Di matanya aku hanyalah seorang adik yang butuh bimbingan, sama seperti adik-adik kandungnya yang lain. Bahkan ketika aku memberi sinyal untuk pertama kali, ia hanya berkata bahwa cinta adalah fitrah. Ia hanya bertindak seolah rasa itu tak menyiksaku. Tanpa sadar, rasaku menutup erat pandangan mataku dan kepekaan batinku.

                Aku lupa berkaca bahwa aku adalah gadis biasa yang memaksa seorang pemuda bersahaja untuk terus bersamaku. Aku lupa berfikir bahwa ia hanyalah manusia biasa yang punya ruang kehidupan sendiri, ruang kehidupan yang tanpa ada aku di dalamnya. Aku kepadanya bagai benalu yang bertengger pada sang inang.

Komentar