Setiap manusia selalu dianugerahi
bakat sebelum dilahirkan ke dunia ini. Ada yang sudah menyadari bakatnya sejak
dini, ada juga yang masih mencari-cari dengan menggali potensi dalam dirinya sendiri
hingga kini. Manusia yang akan kubahas di artikel ini berasal dari golongan
remaja. Seperti di artikelku sebelumnya yang menyebut bahwa 'kaum remaja adalah
kaum yang masih dalam proses pencarian jati diri'.
Remaja
selalu punya rasa ingin tahu yang besar, koneksi pertemanan yang juga
memungkinkan. Salah satu ambisi yang banyak dirasakan remaja saat ini adalah
ambisi untuk diakui keberadaannya dalam lingkungan masyarakat. Banyak cara yang
dijalankan oleh remaja untuk mendapat pengakuan itu. Salah satunya adalah
menunjukkan prestasi mereka dalam sebuah bidang.
Bagi
sebagian besar remaja tidak susah untuk tergabung dalam suatu komunitas yang
dapat mengembangkan apa yang difikir sebagai bakat mereka. Namun tidak mudah
juga bagi setiap orang tua dapat merestui sepenuhnya keputusan yang mereka
ambil. Dalam hal ini, kita sebagai remaja harus menjalin komunikasi yang lebih
dengan orang tua. Komunikasi yang saling berimbang maksudnya. Bukan orang tua
yang terlalu mendominasi, kita juga harus belajar lebih tebuka kepada orang
tua.
Jika
telah menyatakan bahwa ‘A’ adalah apa yang kita sadari sebagai bakat dan
memiliki fikiran untuk benar-benar terjun ke dunia yang dapat menunjang bakat
tersebut, kita harus sekaligus wajib berfikir ulang. Berfikir apa akibat untuk
ke depannya, bagaimana reaksi orang tua nanti? Sesuai tidaknya dengan norma
sosial, seberapa besar kadar kemanfaatan dari hal ini, apakah yang kita lakukan
ini hanya ikut-ikutan? Dan masih banyak lagi pertanyaan yang harus kita
lontarkan pada diri sendiri.
Jangan
biarkan orang tua menjadi pihak yang terlalu dominan. Di zaman sekarang, tidak
susah kok untuk mengajak orang tua menjalin komunikasi yang seimbang. Salah
satunya dengan menonton film bersama orang tua masing-masing. Film “I not
stupid too” yang berasal dari negara berjulukan The Lion City ini bisa menjadi
salah satu referensi pilihan. Film yang dirilis 26 Januari 2006 ini mengisahkan
tentang kehidupan, perjuangan dan petualangan dari tiga orang anak yang tidak
pernah dilihat dari sisi kelebihannya oleh orang tua mereka sendiri. Orang tua
yang selalu menganggap mereka salah dan tidak menghargai bakat yang mereka
miliki. For full story, kalian bisa tahu dari filmnya ya ^^
Dari
berbagai uraian diatas, bisa ditarik dua kesimpulan. Yang pertama, dari pihak
kita sebagai remaja harus bisa mempertanggungjawabkan secara keseluruhan apa
yang sudah kita pilih. Kedua dari pihak orangtua juga perlu memberi ruang dan
kesempatan komunikasi yang lebih intens dari arah kita, atau bisa dibilang
tidak terlalu mendominasi. Nah, selebihnya harus ada rasa saling pengertian dan
kesediaan untuk saling memahami.
Tambahan,
kita juga harus sebisa mungkin memberi pengertian kepada orang tua tentang
aktivitas kita dengan jelas saat orangtua meluangkan kesempatan kita untuk
berbicara. Lewat kesempatan ini juga, kita dapat berlatih untuk menjadi dewasa
dengan membuktikan diri kepada orang tua bahwa kegiatan kita selama ini memang
bermanfaat bagi perkembangan diri kita dan juga Insya Allah, tidak bakal
mengecewakan mereka.
Terimakasih sudah meluangkan waktu untuk membaca. By the way, jangan lupa tinggalkan jejak ^^
Komentar
Posting Komentar